Hijrah, Solusi Antisipasi Resesi Ekonomi

Bengkulu, jurnalisbengkulu.com – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD menyebut Indonesia akan dilanda resesi ekonomi mulai bulan September 2020.

Kenyataan pahit tersebut terjadi karena ekonomi yang terus turun imbas pandemi virus Corona (COVID-19) yang menjadi pandemi global.

“Bulan depan (September 2020) hampir dapat dipastikan 99,9% akan terjadi resesi ekonomi di Indonesia,” katanya saat memberikan sambutan dalam acara temu seniman dan budayawan Yogya di Warung Bu Ageng, Kota Yogyakarta, akhir pekan lalu.

Pengamat juga telah menyebut Indonesia terancam resesi. Jika sudah begitu, dampak ngerinya adalah banyak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Kemungkinan bagi pekerja yang memiliki kontrak jangka pendek, tidak akan diperpanjang.

“Tentu saja perusahaan-perusahaan yang punya kontrak jangka pendek atau kontraknya terbatas misalnya, dia tidak akan dilanjutkan untuk perpanjangan kontrak. Kemungkinan itu terutama bagi industri-industri yang terpengaruh sampai akhir tahun bahkan sampai tahun depan seperti industri penerbangan dan sebagainya itu yang saya kira masih relatif terkendala,” kata Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad.

Menurut penulis, hijrah merupakan salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi atau mengatasi resesi ekonomi yang akan terjadi di Indonesia, termasuk di Bengkulu.

Hijrah atau berpindah yang dimaksud penulis adalah melakukan sesuatu yang nyata dengan harapan kondisi akan menjadi lebih baik.

Salah satu yang hijrah yang bisa dilakukan untuk mengatasi resesi ekonomi adalah menghilangkan kebiasaan hidup boros dalam bebelanja, menjadi hemat dalam membeli kebutuhan sehari-hari.

Orang hidup boros menerapkan pola pikiran berbelanja berdasarkan keinginan atau nafsu belaka, sehingga berapa pun uang yang dimiliki akan habis dibelikan barang yang belum tentu bermanfaat.

Sebagai contoh, seseorang akan terus makan makanan meski perutnya telah penuh karena kenyang, sehingga bisa berakibat muntah atau bahkan menderita sakit.

Sementara orang yang hidup hemat, berbelanja sesuatu berdasarkan kebutuhan. Ia akan membelanjakan uang miliknya sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Bila makan dia akan berhenti sebelum kenyang.

Selain itu, penulis mengajak warga Indonesia khususnya umat Islam untuk membeli produk buatan dalam negeri. Seperti membeli buah-buahan hasil panen para petani Indonesia, khususnya petani Bengkulu, sehingga perputaran ekononi dalam negeri berjalan lancar.

Selanjutnya, umat Islam jangan lupa menjalankan ibadah wajib dan sunnah dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga kita semua berhasil melalui kondisi resesi ekonomi. Aamiin.

Penulis: Adi HFA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here