COVID 19 DAN HUBUNGAN RUMIT SAIN-AGAMA (Oleh : Moch Iqbal)

Oleh : Moch Iqbal, Dosen IAIN Bengkulu

Covid 19 semakin mengganas, yang banyak memakan korban meninggal hampir diseluruh negara yang terkena pandemi global ini. Tidak memilih sasaran korban, dari mulai masyarakat kelompok bawah, hingga masyarakat berstrata tinggi. Dari masyarakat yang tidak ‘bertuhan’ hingga masyarakat yang kerap memanggil-manggil dan menyebut Tuhan. Semua terkena, tanpa pilih-pilih.

Negara negara yang mempunyai disiplin tinggi dan kualitas kesehatan baik, juga kedodoran dalam mengatasi wabah ini. Italia, hampir 1000 orang setiap hari harus meregang nyawa. Demikian juga Spanyol dan sekarang bergeser ke Negerinya Trump Amerika yang sangat adi daya itu, juga mengalami hal yang sama, kuawalahan menghadapi covid 19.

Tidak terkecuali Indonesia, hingga awal April 2020 terus mengalami peningkatan data yang terserang virus ini. Berbagai upaya dilakukan untuk menghalau penyebaranya. Di samping kecemasan yang terus diproduksi oleh media, juga doa-doa yang kerap menghiasi layar media sosial, yang dianggap akan mampu menjadi obat mujarab, dalam menangkal pandemi global tersebut. Maklum negeri yang sangat religius.

Tidak sebatas itu, teks-teks kitab suci juga dikutip, untuk menunjukkan kemaha hebatan kitab suci dan religiusitas. Bahwa virus yang sangat heboh tersebut, sudah dibahas di dalamnya. Hebatnya lagi dengan nama yang nyaris sama, bahkan pesanya juga sama, yaitu agar berdiam di rumah, sebagaimana anjuran protokol global, untuk memutus mata rantai wabah Covid 19. Artinya wabah heboh ini akan mampu takluk dengan doa-doa, oleh bait-bail ayat Illahi rabbi.

Lihat ayat lengkap dari Surah Al Ahzab ayat 33

Artinya: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membe’brsihkan kamu sebersih-bersihnya,”

Ayat di atas viral di banyak media sosial, dan dijadikan legalitas. Seolah ingin menunjukkan bahwa virus ini sudah lama dibahas dalam kitab suci. Tanpa mempedulikan, bahwa Cina, Kuba, Jepang dan Rusia mampu menahan laju Corona karena ilmu pengetahuan yang tingggi dan masyarakatnya yang sangat disiplin. Dan rasanya bukan karena doa-doa yang melimpah atau jampi-jampi dan mantra-mantra.

Agama seolah tidak berdaya. Bagi kaum jabariyah (fatalism), hanya bisa berserah, sambil berharap keajaiban. Bagi kaum qodariah (rasionalism) tetap berusaha agar tidak terpapar virus. Sedangkan ilmu pengetahuan kesehatan/kedokteran berjibaku keras untuk menemukan jalan keluar. Menemukan vaksin atau obat penangkal.

Hubungan Rumit Agama dan Sain

Semenjak dua dekade lalu, perguruan tinggi Islam sangat getol meng-integrasikan sain dan agama. Namun terdapat kerumitan hubungan keduanya. Bisa dibayangkan, perkembangan ilmu dan teknologi yang demikian pesat, harus diverifikasi dengan kitab suci yang sakral dan mutlak kebenarnya. Yang akan mungkin terjadi adalah pemaksaan dan ‘cocokologi’ sain dan agama. Covid 19 adalah contoh kasusnya. Betapa kaum agamawan demikian yakin mencocok-cocokan dengan kitab suci. Pertanyaan sederhana adalah, kalau memang sudah disinggung dalam kitab suci 15 abad yang lalu, kenapa kaum agamawan tidak memahami wabah ini dengan baik? Justru ilmuan yang tidak pernah mengenal kitab suci, yang lebih meyakinkan dalam menjelaskan virus mengerikan ini.

‘’Semua sudah ada di kitab suci, kitab suci sudah membahas sejak dulu, 15 abad yang lalu, ilmu ini, ilmu itu sesuai dan tidak sesusi dengan kitab suci’’, dan kalimat sejenis adalah klaim klaim yang akan sering didengar pada model keilmuan integrasi sain dan agama/kitab suci. Belum lagi kitab suci yang sakral yang tidak bisa dikritik, akan banyak mempersulit ‘perjodohan’ ilmu dan sain yang banyak diidealkan oleh para cendikiawan muslim.

Hasan Hanafi malah menyarankan tidak menjadikan al Qur’an sebagai isu utama dari berbagai wacana yang muncul, terutama dalam berbagai kajian keilmuan. Al Qur’an dan Hadits sebagai teks terbuka bisa ditafsirkan sesuai dengan berbagai kepentinga para penafsirnya, terkait dengan kemampuan, sosio-budaya dan latar akademiknya. Maka menjadikan Al Qur’an dan Hadits sebagai sumber dari segala sumber keilmuan, terkesan hanya dipaksakan. Karena realitasnya, kajian keilmuan yang muncul, lahir dari hasil pemikiran mendalam dan pergulatan di lapangan, tidak membaca dari kitab suci terlebih dahulu.

Berbagai ragam keilmuan yang bermunculan, justru tumbuh subur dari tradisi berfikir dan meneliti yang sangat liberal, tidak dari tradisi pembacaan kitab suci. Maka kitab suci harus diletakkan sebagai sumber moral tertinggi, sebagai cita-cita masyarakat yang beradab.

Bila menilik sejarah hingga perkembangannya sekarang, sain yang berkembang pesat di barat dibangun atas dasar semangat kebebasan dan penentangan terhadap doktrin ajaran agama (kristen) yang kaku. Misi yang paling mencolok yang disisipkan ke dalam sains barat adalah sekulerisasi. Sekulerisasi sendiri mempunyai pengertian yaitu, menunjukkan setiap proses sosial dan historis yang membawa perubahan yaitu semakin mengesampingkan kepercayaan dan nilai-nilai religius dan menjelaskan segala sesuatu melulu dalam lingkup dunia. Suasana kebebasan demikian membekas bagi para ilmuan tanah air yang baru pulang belajar dari barat untuk biasa dikembangkan di Indonesia.

Penutup
Peristiwa besar ini memberi pelajaran besar bagi peradaban manusia, bahwa ilmu pengetahuan memegang peran utama dalam mengatasi berbagai persoalan. Agama yang menjadi denyut nadi masyarakat Indonesia juga harus bergelut dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak sekedar ritual keagamaan semata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here