Pesan Harian UJH : Materi Khutbah Menarik Perhatian Jamaah

RELIGI1893 Dilihat

Tidak sedikit buku-buku khutbah yang dijual di toko-toko buku, online fan termasuk bisa di download secara gratis. Banyaknya buku-buku khutbah membuat khatib bebas memilih materi sesuai dengan situasi dan kondisi. Kadang miris di podium pengurus tidak menyiapkan sebuah pun buku khutbah. Ada juga yang bertahun-tahun buku khutbah itulah yang tersaji. Padahal buat membeli buku khutbah tidak sampai ratusan ribu.

Khatib boleh menyesuaikan isi khutbahnya dengan kondisi dan keadaan. Misalnya, boleh berbicara politik tapi tidak boleh menghujat, kampanye, menyinggung pribadi atau kelompok. Agar jamaah makin luas pengetahuannya.

Kadang materi khutbah yang kurang menarik perhatian jamaah. Suara khatib yang pelan. Sound system menggema tidak jelas. Maka, perlu juga ilmu bagaimana menyetel amplipier. Kalau acara haflah atau baca al Quran butuh suara echo tapi untuk khutbah atau pengajian mikropon masjid tidak dibutuhkan echo. Mengutip anjuran para ulama seperti disebutkan Imam Nawawi dalam Al-Majemuk.
يستحب كون الخطبة فصيحة بليغة مرتبة مبينة من غير تمطيط ولا تقعير ولا تكون الفاظا مبتذلة ملفقة فانها لا تقع في النفوس موقعا كاملا ولا تكون وحشية لانه لا يحصل مقصودها بل يختار الفاظا جزلة مفهمة قال المتولي ويكره الكلمات المشتركة والبعيدة عن الافهام وما يكره عقول الحاضرين واحتج بقول علي بن أبي طالب رضي الله عنه ” حدثوا الناس بما يعرفون أتحبون ان يكذب الله ورسوله” رواه البخاري في اواخر كتاب العلم من صحيحه
Artinya, “Seorang khatib dalam khutbahnya disunahkan menggunakan kata-kata yang jelas dan lancar, teratur, terang, tanpa dipanjangkan dan tanpa teriak. Jangan pula khutbah menggunakan kata-kata klise (seperti slogan dalam propaganda politik maupun iklan) karena tidak mengena dengan sempurna di hati pendengar. Jangan juga menggunakan kata asing karena dapat menjauhkan dari maksud pesan ketakwaan itu sendiri. Seorang khatib hendaknya menggunakan kata-kata secara bijak dan mudah dipahami. Imam Al-Mutawalli berpendapat, khatib makruh menggunakan kata-kata yang mengandung banyak makna (polisemi) dan sulit dipahami. Khatib juga makruh menggunakan kata-kata yang tidak masuk logika sebagian jamaah Jumat. Al-Mutawalli berargumentasi dengan perkataan Sayyidina Ali RA, ‘Bicaralah kepada orang lain sesuai daya pikir mereka. Apakah kalian senang kalau Allah dan Rasul-Nya didustakan?’ (HR Bukhari di akhir Bab Ilmu),” (Lihat Imam Nawawi, Al-Majemuk, Maktabah Taufiqiyyah, Kairo, Mesir, Tahun 2010, Juz 4, Halaman 363).

Pagar Dewa, 29122023
Salam Ujh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 komentar