Sabotase Pers: Premanisme di Pantai Zakat, HP Wartawati Dirampas, AMJ Tabuh Genderang Perang!
Bengkulu, Jurnalisbengkulu.com – Kebebasan pers di Bumi merah putih kembali diinjak-injak. Aksi premanisme pecah di kawasan wisata Pantai Zakat, Minggu (29/3), saat seorang jurnalis perempuan, Ermi Yanti, menjadi korban perampasan paksa telepon genggam oleh oknum yang diduga pelaku pungutan liar (pungli).
Bukannya memberikan rasa aman, oknum tersebut justru menunjukkan arogansi dengan mengintimidasi korban saat ia tengah merekam bukti keributan terkait iuran ilegal. Ponsel dirampas, rekaman dipaksa hapus, dan makian kasar dilontarkan—sebuah upaya terang-terangan untuk membungkam kebenaran di lapangan.
Melawan Pembungkaman
Menyikapi hal ini, Ketua Asosiasi Media Jurnalis (AMJ), Wibowo Susilo, S.E., tidak tinggal diam. Dengan nada bicara yang tak menyembunyikan amarah, Wibowo menegaskan bahwa AMJ telah mengambil posisi tempur untuk mengawal kasus ini hingga ke meja hijau.
“Ini bukan sekadar tindakan kriminal biasa. Ini adalah serangan terhadap pilar demokrasi! Merampas alat kerja jurnalis adalah upaya pengecut untuk menutupi borok pungli di Pantai Zakat. Kami akan seret pelakunya sampai tuntas!” tegas Wibowo usai laporan resmi masuk ke Polresta Bengkulu, Senin (30/3).
Sorotan Tajam: Pungli dan UU Pers
Aksi barbar ini diduga kuat merupakan upaya menutupi praktik pungutan liar yang kian meresahkan pedagang. Padahal, Dinas Pariwisata Kota Bengkulu sudah jelas-jelas menyatakan bahwa kelompok sadar wisata (Pokdarwis) tidak memiliki mandat untuk menarik iuran apa pun.
AMJ menegaskan bahwa pelaku tidak hanya bisa dijerat pasal pencurian dengan kekerasan atau intimidasi (KUHP), tetapi juga Pasal 18 UU Pers Nomor 40 Tahun 1999, yang mengancam siapa pun yang menghalangi tugas jurnalistik dengan pidana penjara dua tahun atau denda Rp500 juta.
Poin-poin Tuntutan AMJ:
Tangkap Pelaku Segera: Polresta Bengkulu diminta tidak mengulur waktu dalam memproses laporan.
Usut Akar Pungli: Perampasan HP hanyalah puncak gunung es dari dugaan mafia pungli di objek wisata.
Jaminan Keamanan: Negara harus hadir menjamin nyawa dan alat kerja jurnalis saat berhadapan dengan kelompok anarkis.
Kini, bola panas ada di tangan aparat penegak hukum. Publik menanti, apakah hukum akan tegak, atau justru kalah oleh intimidasi preman berbaju “pengelola” wisata?
Reporter : Hendri Gunawan






