Empat Anak Tanpa Sekolah, Seorang Ayah Bertahan dari Buruh Tak Pasti: Potret Kemiskinan Nyata di Rejang Lebong

Empat Anak Tanpa Sekolah, Seorang Ayah Bertahan dari Buruh Tak Pasti: Potret Kemiskinan Nyata di Rejang Lebong

 

Rejang Lebong, Jurnalisbengkulu.com – Di Desa Kampung Baru Palbatu, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, hidup sebuah keluarga kecil yang mencerminkan wajah kemiskinan struktural yang masih nyata hingga hari ini. M. Taufik (53), seorang buruh kasar, menjalani hidup sebagai orang tua tunggal yang harus menghidupi empat anaknya yang masih berusia kanak-kanak, dengan penghasilan yang tidak menentu dan bantuan sosial yang sangat terbatas.

Keempat anak tersebut masing-masing berusia 13 tahun, 10 tahun, 8 tahun, dan seorang anak perempuan berusia 7 tahun. Di usia yang seharusnya diisi dengan pendidikan, pembinaan karakter, dan harapan masa depan, mereka justru tumbuh dalam keterbatasan yang memaksa satu kenyataan pahit: tidak satu pun dari mereka saat ini bersekolah.

Bapak Taufik bekerja sebagai buruh kasar serabutan. Pekerjaan ini tidak memiliki kepastian kadang ada, sering kali tidak. Dalam satu minggu terakhir, ia tidak memperoleh pekerjaan sama sekali. Kondisi tersebut berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan paling dasar. Hari ini, keempat anaknya tidak dapat makan, bukan karena kelalaian, tetapi karena ketiadaan penghasilan.

Saat diwawancarai jurnalisbengkulu.com, Rabu (14/1/2026) di kediamannya, bapak Taufik mengaku sepanjang tahun 2025, keluarga ini hanya satu kali menerima bantuan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Setelah itu, mereka kembali bertahan sendiri di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat. Bantuan yang diterima tidak cukup untuk menopang kebutuhan jangka panjang, terlebih untuk memastikan anak-anak tetap bersekolah.

Yang paling mengkhawatirkan dari kondisi ini bukan hanya soal kemiskinan, tetapi hilangnya akses terhadap pendidikan. Keempat anak tersebut berada pada usia emas perkembangan. Tanpa pendidikan formal, mereka berisiko kehilangan kesempatan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Pendidikan yang seharusnya menjadi jalan pembebasan, justru menjadi kemewahan yang tak terjangkau.

Di dalam rumah sederhana berdinding papan, anak-anak ini tumbuh tanpa seragam sekolah, tanpa buku pelajaran, dan tanpa lingkungan belajar yang layak. Setiap hari mereka menyaksikan ayahnya berjuang dengan keterbatasan fisik dan usia yang tidak lagi muda, memikul beban empat masa depan sekaligus.

Kisah Bapak M. Taufik bukan sekadar cerita personal, melainkan cerminan persoalan sosial yang membutuhkan kehadiran negara secara nyata. Oleh karena itu, besar harapan agar Pemerintah Daerah Kabupaten Rejang Lebong, melalui instansi terkait, dapat segera melakukan pendataan dan intervensi, khususnya dalam bentuk:

  • Bantuan sosial yang berkelanjutan
  • Akses pendidikan dan fasilitasi sekolah bagi keempat anak
  • Pendampingan ekonomi agar orang tua memiliki penghidupan yang lebih layak

Anak-anak ini tidak meminta lebih. Mereka hanya membutuhkan kesempatan yang sama seperti anak-anak lainnya: makan dengan layak, bersekolah, dan memiliki masa depan. Ketika seorang ayah telah berjuang hingga batas kemampuannya, maka sudah sepatutnya negara hadir untuk memastikan tidak ada anak yang tumbuh tanpa pendidikan dan harapan.

 

Reporter: Hendri G, Amin G