Ibnu Hajar Laksanakan Penutupan Tradisi Budaya Pasca Peristiwa Hilangnya Abiem di Bukit Kaba

Ibnu Hajar Laksanakan Penutupan Tradisi Budaya Pasca Peristiwa Hilangnya Abiem di Bukit Kaba

 

 

Rejang Lebong, Jurnalisbengkulu.com – Ibnu Hajar, orang tua dari Abiem yang sempat dinyatakan hilang beberapa waktu lalu di kawasan Bukit Kaba, Kabupaten Rejang Lebong, mendatangi Ketua Umum Persilatan Rejang Pat Petulai, Amin “Gondrong”, dalam rangka pelaksanaan penutupan adat pascaperistiwa tersebut.
Kedatangan Ibnu Hajar disertai penyerahan satu ekor kambing jantan dan sepasang burung merpati.

Penyerahan ini dimaknai sebagai simbol permohonan maaf secara adat kepada para tetua dan leluhur, sekaligus bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Rejang.

Prosesi tersebut diterima langsung oleh Ketua Umum Persilatan Rejang Pat Petulai, Amin Gondrong. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari tradisi adat Rejang Pat Petulai yang mengedepankan etika, tanggung jawab moral, serta penghormatan terhadap kearifan lokal.

“Ini adalah bentuk penyelesaian secara tradisi dan budaya, yang bertujuan menjaga keharmonisan serta mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat. Tidak mengandung unsur kepercayaan tertentu, melainkan pelestarian nilai budaya,” ujar Amin Gondrong.


Pelaksanaan penutupan adat ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian prosesi adat pasca kejadian yang sempat mengundang perhatian masyarakat. Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bentuk refleksi dan penghormatan terhadap norma tradisi yang berlaku di wilayah Rejang Lebong.
Rangkaian acara ditutup dengan pertunjukan seni Persilatan Rejang Pat Petulai. Atraksi seni bela diri tradisional ini berlangsung khidmat dan sarat makna, sekaligus menjadi simbol kebersamaan, kekuatan, dan komitmen masyarakat dalam melestarikan warisan budaya daerah.

Masyarakat yang hadir menyambut kegiatan ini dengan antusias, menjadikannya momentum penting untuk memperkuat identitas budaya serta menjaga nilai-nilai adat di tengah perkembangan zaman.

 

Reporter : Hendri Gunawan