Jendelanya Hati

Bengkulu, JB– Dalam catatan harian ini, kutuliskan kisah yang menarik dan unik. Sungguh aku ingin bercerita tentang keresahan hati yang pernah aku alami, menarik bukan!

Awalnya tak sedikit pun terlintas di benakku untuk menuliskan kisah ini yang setiap hari menari-nari dalam pikiran ku, biasanya setiap hari aku update status melalui Media Social, seperti Facebook, Twiter, Whatsapp dan Instagram. yang ku bumbui dengan photo agar setatus ku dibanjiri komentar dan like. padahal cuma iseng-iseng katanya Caption aku itu unik dan bersifat membanggun.

Yeah…sekedar menulis, yang selalu bercerita tentang pengalaman yang sudah aku alami sehari-hari, dengan latar belakang dunia keresahan dimasa Kuliah, Kenapa tidak jurusan yang aku ambil sungguh aneh “kata temen-temen sebayaku”. yaitu Program study Sejarah Kebudayaan Islam?

Kecintaan aku terhadap Dunia sejarah adalah untuk mengetahui peristiwa dimasa silam, menarik bukan! Pasalnya yang menjadi favorit semua orang semasa dibangku kuliah adalah Ekonomi. “katanya”.

Tak peduli, setelah aku mengeluti dunia sejarah seringkali aku berpikir, apakah aku mampu untuk membuka kebenaran dan menjadi sosok peneliti yang terkenal seperti Socrates, Thales bahkan sang Guru Besar Ariestoteles?. menarik dan seru.

Duduk santai sambil mengobrol dengan kakek-kakek dan nenek-nenek. boleh dikatakan orang usia lanjut, namun selalu ada keasyikan tersendiri. Cerita masa lalu mereka, kerap menjadi pembelajaran hidup yang penting, sekaligus pendidikan kehidupan bagi kita untuk menempuh kehidupan dimasa depan.

Menariknya, sejarah masa lalu yang mereka lihat, mereka alami, dan mereka dengar, jika didongengkan kembali pada kita, selalu menjadi suplemen yang membuat fresh dan segar terhadap jiwa. itulah yang kudapati terpancar wajar yang bahagia didalam diri mereka.

Namun yang kudapati semasa menempuh di dunia Pendidikan dari SD, SMP, SMA bahkan Perguruan Tinggi aku pun dapat menyimpulkan sendiri. “Belajarlah dari kehidupan, belajarlah untuk menertawakan kebodohan diri sendiri, belajarlah dari kesalahan-kesalahan yang terlanjur diperbuat.” Awy Ameer Qolawon.

Dalam kisah yang singkat ini pada dasarnya kita hidup akan kembali kepada-NYA. percayalah setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru dan setiap peristiwa adalah pelajaran. itulah sejarah tak hanya mempelajari benda-benda yang mengunakan metode Arkeologi. Namun dari sudut pandang lain. Sejarah adalah Gurunya Para Ilmu.

Eko Ririn Sabirin, S. Hum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here