Melihat Integrasi Sains dan Agama dengan Kesederhanaan (Kritik Nalar Moch Iqbal)

Oleh : Ahmad Walid

Kekhawatiran terus menakut-nakuti kita akan adanya fenomena wabah penyakit yang berasal dari virus covid-19 atau lebih kita kenal sebagai virus corona. Virus ini ditemukan pertama kali di Kota Wuhan, Cina, lalu menyebar hingga ke penjuru dunia. Pandemi virus corona mengubah rutininitas hampir semua orang yang awalnya menghabiskan waktu di luar rumah. Untuk menekan risiko penularan COVID-19, masyarakat harus menerapkan tinggal di rumah, untuk para pekerja diberlakukan work from home dan bagi para pelajar learn from home.

Dikutip dari website resmi WHO yaitu  https://www.worldometers.info/coronavirus/ terdapat 722,088 kasus virus corona yang terjadi diseluruh negar di dunia, dengan jumlah angka kematian sebesar 33,976, dan angka kesembuhan sebesar 151,766. Sedangkan kasus virus corona di Indonesia sebesar 1,285, dengan total kematian sebesar 114 dan data untuk tingkat kesembuhan di Indonesia sebesar 64. Dari data tersebut wajarlah jika WHO (World Health Organization) menetapkan sebagai status darurat internasional terhadap virus Corona.

Beberapa hari yang lalu majlis ulama Indonesia dan beberapa organisasi islam kemasyarakatan ikut berperan dalam menekan resiko akibat dari penyebaran pandemi dengan menerbitkan maklumat dan edaran terkait pencegahannya. Akan tetapi lebih kepada bagaimana cara kerja serta amalan amalan pencegahan. Tapi satu pertanyaan yang muncul dari artikel yang ditulis oleh saudara Moch Iqbal: mengapa dalam satu abad terakhir, tidak banyak peneliti Muslim yang mendorong penemuan-penemuan ilmiah? Mengapa yang banyak muncul justru peneliti dan ilmuwan di Barat?. Saat inilah dirasa tepat menjawab kemampuan pakar agamawan.

Jawabannya kompleks, dan pertanyaannya, sebetulnya, juga problematis. Setidaknya, ada dua argumen yang muncul ketika kita ingin menjawab pertanyaan di atas.

Argumen pertama adalah argumen apologetis. Banyak yang akan menjawab bahwa Islam sudah menghasilkan penemu-penemu di masa lalu, di masa ketika Islam berada di masa kejayaan dan Barat berada dalam masa kegelapan. Beberapa orang mungkin akan berargumen bahwa generasi “Baitul Hikmah” dibangun di atas tradisi “Islamic Worldview” lengkap dengan Kosmologi Islam yang, konon, kabarnya, anti-Barat dan “orisinil dari tradisi Islam”. Mungkin akan keluar beberapa nama terkenal: Ibn Sina, Al-Khwarizm, Ibn Rusyd, Al-Kindi, dll. Lengkap dengan kontribusi mereka dalam pengembangan keilmuan.

Argumen ini betul, dan memang Islam punya kontribusi besar dalam membangun fondasi keilmuan modern. Lihat, misalnya, karya bagus dari John M Hobson tentang akar-akar ‘Timur’ dalam peradaban Barat modern, yang menjelaskan bahwa tanpa proses penerjemahan kreatif terhadap naskah-naskah Islam, susah membayangkan peradaban  Barat yang modern akan berdiri tegak. Namun, perlu dicatat bahwa generasi ilmuwan Muslim itu juga penuh kontroversi ketika masih hidup. Ibn Khaldun menulis Muqaddimah setelah lelah menjadi politikus dan akhirnya menulis sejarah secara brilian. Ibn Sina dianggap sesat oleh kalangan sunni. Ibn Rusyd terlibat perdebatan dengan Al-Ghazali, yang mendorong pemikiran filosofisnya agak ke pinggir. Dan ada satu hal lain: bagaimana menjelaskan keterputusan generasi mereka dengan tradisi keilmuan umat Islam saat ini?

Argumen kedua adalah argumen modernis. Mungkin, seperti kata Muhammad Abduh, al-Islam al-mahjuubun bil Muslimiin. Umat Islam jangan-jangan terasing dengan tradisi progresif dan berkemajuan yang inheren dalam sejarah peradaban Islam, yang justru ‘diambil’ oleh orang-orang Eropa. Abduh terkenal dengan penilaiannya ketika di Paris: ia melihat justru nilai-nilai Islam ‘ditemukan’ di Eropa tetapi asing di negeri-negeri Muslim sendiri. Argumen modernis akan mendorong kita untuk melakukan refleksi-diri tentang mengapa Islam justru gagal mereproduksi nafas kemajuan dalam diri Islam itu sendiri, sehingga justru terasing dalam proses penemuan ilmiah yang dulu hidup dalam diri mereka. Ini yang disebut oleh Nidhal Guessoum: ada pertanyaan quantum yang perlu dipikirkan oleh umat Islam untuk merekonsiliasi tradisi Islam dan sains modern.

Argumen ini juga betul: mungkin ada masalah dalam diri umat Islam itu sendiri. Tapi kalau kita kritisi, apa benar umat Islam itu tertinggal, terpinggirkan, dan tak bisa berpikir? Jangan-jangan, ketertinggalan itu justru lahir, selain karena kejumudan yang dialami oleh umat Islam, justru disebabkan oleh sebab-sebab struktural yang mengisolasi umat Islam dari tradisi berpikir progresif yang sudah ada sejak zaman dulu? Pertanyaan ini mengantarkan kita untuk tidak hanya melihat pada diri umat Islam, tetapi persoalan struktural yang lebih kompleks yang mesti dijawab.

Lagipula, sebetulnya, banyak orang-orang yang bekerja secara teoretis maupun praktis, yang merupakan Muslim dan Muslimah. Dalam bidang Quantum Field Theory, ada nama besar Abdus Salam yang diganjar nobel fisika tahun 1979. Abdus Salam, ilmuwan Pakistan yang disegani dan banyak mendorong perkembangan Nuklir, diganjar Nobel karena temuannya tentang electroweak. Lalu ada, misalnya, Maryam Mirzakhani, ahli Matematika Muslimah yang diganjar penghargaan Medali karena kontribusinya dalam bidang Matematika.

Tapi pertanyaan di atas tetap menggelisik: apa yang keliru?

Islam sudah menggariskan tradisi pengetahuannya melalui Teologi Al-Alaq. Kita mungkin tak perlu bertanya lagi tentang hal ini. Tapi untuk mengembalikan tradisi pengetahuan umat Islam, perlu sesuatu yang lebih mendasar, yaitu memahami kembali sejarah dan tradisi pengetahuan umat Islam, dan menjadikannya untuk memotivasi perkembangan sains dan teknologi saat ini.

Kita tidak perlu ‘alergi’ dengan kemajuan dari berbagai belahan dunia yang lain. Bisa jadi, yang mereka lakukan justru sejalan dengan perintah Al-Qur’an untuk membaca, menulis, dan mengajarkan pengetahuan. Yang perlu dilakukan umat Islam adalah mengontekstualisasikan tiga perintah Allah dalam Surat Al-Alaq secara konsisten: (1) iqra’ –“membaca” ciptaan Allah melalui penelitian; (2) ‘allama bil kalam” –menulis dan mempublikasikan hasil riset; serta (3) “‘allamal insaana maa lam ya’lam” –mengajarkan mahasiswa dan mengader ilmuwan-ilmuwan muda di kampus.

Tentu hal ini juga membutuhkan kritik yang terus-menerus terhadap hierarki global dan relasi sosial kapitalisme yang membentuk dunia saat ini utamanya di indonesia. Di banyak tempat, saat ini tengah berlangsung kampanye tentang dekolonisasi pengetahuan, yang sebetulnya bukan hanya soal membuat ‘keragaman’ dalam pengetahuan, tetapi juga membersihkan cara berpikir kita dari warisan kolonial masa lalu. Warisan berpikir yang rasis, menganggap orang lain tidak se-level hanya karena tidak menempuh pendidikan, atau menganggap orang-orang di negara “Dunia Ketiga” adalah orang-orang yang harus diberadabkan.

Dalam studi literasi sains yang saya dalami sekarang, Tugas sains sekarang dan masa depan adalah meruntuhkan asumsi macam ini: bahwa dalam pengembangan pengetahuan, semua orang harus punya kesempatan yang sama untuk mengembangkan pengetahuan tanpa harus ada kelas-kelas sosial dan tingkatan-tingkatan (hierarki) global.

Riset Kebijakan Perguruan Tinggi Islam

Jika ada kebijakan yang baik, terdapat assessment yang baik dan assessment yang baik didapat dari perhitungan yang tepat. Sains memiliki subilmu yang bernama statistika, disiplin ilmu ini dipercaya mampu untuk menentukan apakah faktor yang satu dipengaruhi atau mempengaruhi faktor lainnya.

Statistika mampu mengetahui seberapa kuat adanya hubungan faktor-faktor tersebut, memberikan perhitungan sejauh mana kita harus memperhatikan faktor yang satu atau meninggalkan faktor lainya. Dalam riset kebijakan tentu kita akan dihadapkan pada variabel yang harus mampu kita definisikan dalam dimensi faktor utama atau kontrol.

Dalam pengambilan kebijakan para pemangku kekuasaan di berbagai kampus islam, tentu akan dihadapkan banyaknya populasi masyarakat yang harus ia teliti. Sedikit waktu yang akhirnya dapat digunakan oleh mereka, sehingga hasil kebijakan semisal tentang perlukah mempunyai saran laboratorium yang memadai, pengadaan alat, mengadakan penataran, training, perlukah sistem baru dipakai dan sistem lama ditinggalkan atau lainnya.

Semua itu akan salah sasaran jika tidak didasari dengan riset kebijakan yang baik. Untuk melihat dan menilai hasil pembangunan masa lalu atau juga untuk membuat rencana masa datang hendaknya pemerintah mengambil manfaat dari statistika dengan dalil dalil yang berkeliaran di dalam al qur’an.
Ini hanya permasalahan mau atau tidak, bukan bisa atau tidak, sehingga para pengambil kebijakan ketika menjalankan amanat dapat mengolah kebijakan sepenuhnya untuk permasalahan yang didapatkan dalam pengembangan integrasi keilmuan.

Penutup
Ala kulli hal, Ada satu hal penting di sini: bahwa yang kita kenal sebagai ‘zaman keemasan Islam’ bisa jadi bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul. Bisa jadi, ia hadir sebagai sesuatu yang diperjuangkan. Ada perjuangan untuk meyakinkan pemimpin bahwa pengetahuan penting; atau bahwa tradisi untuk berpikir rasional dan berbasis data adalah tradisi pengetahuan Islam; atau bahwa untuk mengembangkan pengetahuan, perlu kerja kolektif. Dan artinya, perjuangan untuk membangkitkan tradisi pengetahuan umat Islam, adalah juga perjuangan kolektif semua elemen umat.

Dan tidak semua ceritanya indah; ada yang dituding aliran sesat, ada yang direpresi karena tidak mau menganggap Al-Qur’an sebagai wahyu, ada yang saking cintanya pada ilmu hingga hidup melajang – dan ini tentu biasa saja di masa itu. Di masa kini, mungkin juga banyak dinamika yang muncul; dari soal dianggap liberal, kiri, atau malah dicibir karena dianggap berbeda dari masyarakat. Yang kemudian, mestinya, membuat kita memahami bahwa Islam adalah bagian dari kenyataan yang dinamis, bukan hanya idealisasi tentang masa lalu yang dipaksakan untuk hadir di masa kini.

Sesedarhana itu kan.
Nuun wal qalami wa maa yasthuruun

*ditulis dari berbagai sumber dan artikel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here