ASN Wajib, Makruh dan Haram

Kota Bengkulu, jurnalisbengkulu.com – Wakil Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi berpesan, jadilah pegawai yang baik sebelum kita menjadi pimpinan yang baik. Penegasan sekaligus harapan Wawali ini disampaikan saat hari pertama masuk kerja setelah libur panjang 1 Syawal 1443 H, ditandai dengan apel gabungan sekaligus halal bihalal di halaman Kantor Walikota Bengkulu.

Ada hal yang menarik untuk kita simak bersama pesan-pesan dan harapan Wawali kepada ASN dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Dalam hal ini Wawali membagi ASN ini menjadi 3 (tiga) kategori. Pertama ASN Wajib, ini tipe ASN yang selalu dibutuhkan keberadaannya, ketidakhadirannya dirasakan ada yang kurang atau belum lengkap.

Kedua ASN Makruh, ini tipe ASN yang keberadaannya tidak terlalu diperhitungkan, hadir tidak akan menambahi, tidak hadirpun tidak akan mengurangi. Ketiga ASN Haram, ini tipe ASN yang selalu membuat masalah, tidak disiplin, tidak bisa kerja, tukang hasut, fitnah dan selalu mengganggu kenyamanan sistem kerja.

Pertanyaannya termasuk kategori manakah kita? Jawabannya ada pada diri kita sendiri, dan tidak sulit bagi kita menentukan golongan yang mana. Apakah termasuk ASN Wajib, ASN Makruh atau ASN Haram.

Justru akan menjadi sulit ketika kita bercita-cita menjadi pimpinan yang baik sebagaimana harapan Wawali. Untuk menjadi pemimpin yang baik, sudah barang tentu kita harus memulainya menjadi ASN yang baik, atau istilah Wawali ASN Wajib. Dengan berbekal ASN wajib ketika nantinya kita menjadi pimpinan, insyaallah akan menjadi pimpinan yang baik.

Kalau boleh saya menterjemahkan pimpinan yang baik sesuai harapan Wawali itu, adalah tipe pemimpin Pancasila menurut Kihadjar Dewantara. Ketika dia berada di depan dia akan selalu menempatkan dirinya sebagai suri tauladan atau contoh terhadap bawahan, mulai dari cara bicara, bersikap dan bertindak. Dia sangat humble, demokratis, objektif dan jauh dari kesan otoriter, dan selalu bersikap adil. Ketika dia ditengah, dia selalu membangkitkan semangat kerja bawahan, membaur dan sangat humanis. Begitupun saat dia di belakang, dia selalu mendorong bawahan untuk terus maju, berprestasi dan berkarya, sangat apresiasi dan jauh dari rasa takut tersaingi. Sebaliknya kolaborasi, sinergisitas, koordinasi dan komunikatif sudah merupakan kebutuhan sebuah organisasi yang dipimpinnya. Semoga kita semua menjadi ASN Wajib.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *