Kota Bengkulu, Jurnalisbengkulu.com – Ancaman gangguan layanan kebersihan kembali membayangi Kota Bengkulu. Pada Kamis sore, 8 Januari 2026, para sopir angkutan sampah di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bengkulu mengeluhkan kesulitan memperoleh BBM jenis biosolar yang selama ini didapat melalui penukaran voucher di kawasan Km 8. Hingga kini, belum ada kepastian solusi dari pihak terkait.
Kondisi tersebut memaksa sebagian besar sopir menghentikan operasional armada. Seorang sopir mengungkapkan bahwa sejak 1 Januari 2026, mereka terpaksa menggunakan dana pribadi demi menjaga pengangkutan sampah tetap berjalan. Namun, keterbatasan kemampuan finansial membuat opsi tersebut tidak lagi memungkinkan. Akibatnya, aktivitas pengangkutan terancam lumpuh.
Situasi ini diperkirakan memburuk pada Jumat, 9 Januari 2026. Informasi yang beredar menyebutkan tidak hanya sopir DLH yang berencana mogok kerja, tetapi juga pengemudi mobil angkutan kecil, pengelola angkutan sampah swasta, hingga unsur LPM yang berencana menggelar aksi demonstrasi di Kantor Wali Kota Bengkulu.
Aksi tersebut tidak hanya menyoroti persoalan BBM, tetapi juga kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang dinilai tidak lagi optimal. Jalan menuju lokasi TPA dilaporkan rusak parah, sehingga menyulitkan kendaraan pengangkut sampah untuk masuk. Di sisi lain, alat berat excavator di TPA juga tidak dapat beroperasi akibat kendala pasokan BBM.
Jika persoalan ini tidak segera ditangani, penumpukan sampah di sejumlah titik permukiman dikhawatirkan tak terelakkan. Selain mengganggu kenyamanan warga, kondisi tersebut berpotensi memicu persoalan kesehatan dan pencemaran lingkungan. Masyarakat pun berharap pemerintah kota segera mengambil langkah konkret agar layanan kebersihan sebagai kebutuhan dasar publik dapat kembali berjalan normal.
Reporter: YunizarÂ






