Kolaborasi Antara Seni Pertunjukan Tradsional Dengan Modern

Opini, jurnalisbengkulu.com – Secara umum, terlepas dari waktu atau lokasi, seni merupakan salah satu dari tujuh ciri universal budaya yang ada di semua peradaban manusia. Selain berfungsi sebagai media ekspresi artistik, seni juga berfungsi sebagai jendela ke dalam konvensi, nilai, dan struktur sosial masyarakat.

Dalam pengertian ini, seni yang muncul dan berkembang dalam suatu komunitas biasanya bersifat sosio-religius, artinya seni terkait erat dengan kegiatan sosial dan tradisi keagamaan setempat. Hal ini menunjukkan bahwa dinamika kehidupan sosial terkait erat dengan kehadiran seni, yang ada dan berkembang untuk memenuhi kebutuhan spiritual, meningkatkan kohesivitas sosial, dan menjelaskan identitas budaya suatu kelompok.

Oleh karena itu, seni merupakan media yang mendukung kepercayaan dan kepentingan lokal masyarakat tersebut selain menjadi produk budaya.

Seni pertunjukan berfungsi sebagai jendela menuju selera, budaya, dan identitas manusia, dan lebih dari sekadar hiburan. Seni pertunjukan berfungsi sebagai wahana kritik sosial sekaligus mendokumentasikan semangat zaman melalui gerakan, suara, ekspresi, dan penceritaan.

Seni pertunjukan telah muncul sebagai arena penting untuk menegakkan nilai-nilai tradisional dan mendorong inovasi kreatif di tengah laju perubahan yang cepat. Fungsi, dinamisme, dan signifikansi seni pertunjukan dalam masyarakat saat ini akan dibahas lebih rinci dalam artikel ini.

Seni pertunjukan tradisional dan seni pertunjukan modern atau yang lebih baru merupakan dua kategori seni pertunjukan. Dari perkembangannya, terlihat bahwa seni pertunjukan masa kini lebih maju daripada seni pertunjukan tradisional. Bukan tidak mungkin seni pertunjukan tradisional akan punah jika tidak dibina dengan baik.

Jenis seni tradisional tertentu selalu memiliki pesan yang ingin disampaikan kepada penonton selama pertunjukan. Pesan atau misi tersebut dapat berupa moral, politik, sosial, atau gabungan dari semuanya. Pada kenyataannya, beberapa nilai hadir dalam setiap pertunjukan seni tradisional.

Empat tujuan utama yang biasanya dilayani oleh seni pertunjukan tradisional: ritual, pengajaran sebagai sarana pembimbingan, hiburan atau tontonan, dan kritik atau pengamatan masyarakat.

Kesenian yang dipentaskan biasanya masih berlandaskan pada adat istiadat yang diwariskan turun-temurun untuk memenuhi peran ritualnya. Setiap aspek pertunjukan diberi makna spiritual dan budaya oleh tradisi ini, yang juga menjadi dasar pertunjukan. Misalnya, prosesi sesaji biasanya dilakukan kepada roh penjaga dan leluhur setempat sebelum pertunjukan wayang dimulai sebagai tanda penghormatan dan permohonan agar acara berjalan lancar.

Sama halnya dengan upacara bersih desa, pada upacara ini juga dipersembahkan sesaji yang dianggap dapat menangkal malapetaka dan mendatangkan rejeki bagi warga sekitar dengan kesenian seperti kuda lumping, reog, atau tayuban dan randai.

Selain itu, ada sejumlah pantangan atau larangan yang harus dipatuhi selama pertunjukan berlangsung, seperti larangan menggunakan frasa tertentu, tidak boleh menampilkan situasi yang tidak diperbolehkan, dan batas waktu yang tidak boleh dilampaui.

Semua unsur tersebut menunjukkan bahwa kesenian tradisional merupakan media sakral yang dipraktikkan dengan sangat menghargai nilai-nilai lokal yang merasuki masyarakat, selain sebagai sumber hiburan sebagai alat pengajaran dengan mentransformasikan nilai-nilai budaya ke dalam seni pertunjukan konvensional. Oleh karena itu, seorang seniman harus mampu menampilkan peran yang diperankannya semaksimal mungkin.

Esensi seni pertunjukan tradisional, seperti wayang kulit, wayang orang, dan ketoprak, memasukkan media pengajaran ke dalam alur cerita dan pengembangan karakter. Misalnya, kebaikan, kerukunan Pandawa, prinsip kesetiaan, dan lain-lain akan menang dalam pertarungan antara kebaikan dan kejahatan.

Dewasa ini, baik masyarakat maupun pemerintah dapat secara efektif menyebarkan informasi dan kritik sosial melalui seni pertunjukan tradisional. Misalnya, penyebaran informasi, pesan-pesan pembangunan, dan sebagainya. Namun, ada pula cara tidak langsung bagi masyarakat untuk mengkritik pemerintah atau pejabatnya, seperti melalui guyonan dalam ketoprak atau goro-goro dalam pewayangan. Hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa mengkritik atasan atau pemimpin pada khususnya adalah hal yang “tabu”. Guyonan atau sindiran dapat mengungkap berbagai anomali tanpa merugikan orang lain.

Seni pertunjukan tradisional sebagai salah satu bentuk hiburan harus mampu menghibur, menenangkan, dan menyentuh emosi masyarakat. Seni pertunjukan tradisional ini biasanya tidak ada kaitannya dengan upacara ritual, tetapi lebih berfungsi sebagai tontonan atau bentuk hiburan. Misalnya, pertunjukan pada resepsi pernikahan, peringatan kelahiran, dan acara lainnya semata-mata hanya bertujuan untuk hiburan.

Seni pertunjukan tradisional makin memprihatinkan, tempat hiburan kolaps karena tak ada lagi pemasukan karena penontonnya kabur. Tentu sangat memprihatinkan melihat kondisi seniman yang menggantungkan hidupnya hanya dari sini. Harus ada jalan keluar agar tidak berlarut-larut. Baik seniman (seniman/pelaku) maupun masyarakat yang mendukungnya, sama-sama memiliki pengaruh terhadap keberlangsungan atau perkembangan seni pertunjukan tradisional.

Seorang seniman harus berani berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa keluar dari konvensi yang berlaku di bidangnya jika ia ingin bertahan. Begitu pula dengan seni pertunjukan konvensional. Salah satu contohnya ialah Diperlukan pendekatan yang adaptif yang menjunjung tinggi cita-cita tradisional randai agar lebih dikenal luas.

Menciptakan tema-tema modern yang menarik bagi generasi muda merupakan salah satu pendekatan untuk menyajikan randai dengan gaya yang lebih mutakhir dan relevan dengan kehidupan modern. Untuk menjangkau khalayak yang lebih luas, randai juga dapat dipromosikan melalui sarana digital seperti media sosial dan jaringan video daring. Dengan bekerja sama, seniman tradisional dan produsen konten kontemporer juga dapat menjadi penghubung yang kuat untuk menarik konsumen perkotaan.

Agar generasi muda dapat memahami dan memiliki rasa kepemilikan atas seni pertunjukan tradisional Minangkabau ini, inisiatif pelestarian di tingkat sekolah dan masyarakat setempat sama pentingnya.

Kesenian tradisional dapat dilestarikan dengan berbagai cara, antara lain dengan mengenalkan budaya lokal melalui keluarga sejak dini, memilih dan menilai budaya lokal untuk pertumbuhan masyarakat, mengajarkan budaya lokal melalui pendidikan formal dan informal, menciptakan budaya lokal yang bermanfaat bagi masyarakat, dan menghindari obsesi terhadap mitos-mitos tentang puncak-puncak kebudayaan.

Karena kebudayaan selalu berkembang sesuai dengan karakternya yang dinamis, maka puncak-puncak kebudayaan harus dimanfaatkan sebagai katalisator bagi pertumbuhannya.

Penulis :
Arif Rahman Hakim Mahasiswa Prodi Sastra Minangkabau Universitas Andalas