Mutiara Islam : Hubungan Umaro, Ulama dan Ummah

Bengkulu, jurnalisbengkulu,com – Salah satu ciri pemimpin yang baik adalah bila ia selalu merindukan nasihat para ulama.

Pemimpin yang baik senantiasa merindukan petuah ulama dan gemar mendengarkan nasihat mereka. Orang yang berilmu adalah orang yang tidak menginginkan hartamu, dan orang yang senantiasa memberimu wejangan serta petuah.

Bila seorang pemimpin tidak lagi mendengarkan nasihat ulama maka dipastikan ia akan menghadapi masalah di kemudian hari akan tersesat, sehingga suatu hari akan turun dari tahtanya.

Pemimpin adalah pembawa dan pengemban amanat rakyat, tak mudah menjadi pemimpin.

Berdasarkan buku At-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk, Al-Ghazali memberikan beberapa nasihat kepada pemimpin. Pertama, pemimpin harus mengetahui kedudukan dan pentingnya kekuasaan.

Sesungguhnya kekuasaan adalah sebagian nikmat dari Allah. Siapa saja yang menjalankan kekuasaan dengan benar, ia akan memperoleh kebahagiaan yang tidak ada bandingannya. Siapa yang lalai dan tidak menegakkan kekuasaan dengan benar, ia akan mendapat siksa karena kufur kepada Allah.

”Keadilan pemimpin satu hari lebih dicintai Allah daripada beribadah tujuh puluh tahun,” sabda Rasulullah.

Kedua, janganlah merasa puas dengan keadaanmu yang tidak pernah melakukan kezaliman. Lebih dari itu, didiklah pembantu, sahabat, pegawai dan para wakilmu. Janganlah engkau tinggal diam melihat kezaliman mereka, karena sesungguhnya engkau akan ditanya tentang perbuatan zalim mereka sebagaimana akan ditanya tentang perbuatan zalimmu.

Umar bin Kaththab menulis surat kepada bawahannya, yaitu Abu Musa al-Asy’ary: ”Sesungguhnya wakil yang paling berbahagia adalah wakil yang rakyatnya merasa bahagia Sesungguhnya wakil yang paling celaka adalah wakil yang rakyatnya dalam keadaan paling sengsara. Oleh karena itu, mudahkanlah karena sesungguhnya bawahanmu akan mengikuti perilakumu. Perumpamaanmu adalah seperti binatang melihat rumput hijau, kemudian memakannya dalam jumlah banyak hingga gemuk. Ternyata kegemukannya membawa kemalangan karena hal itu membuat dia disembelih dan dimakan manusia.”

Ketiga, kebanyakan wakil memiliki sifat sombong. Salah satu bentuk kesombongannya adalah bila marah, ia akan menjatuhkan hukuman. Kemarahan adalah perkara yang membinasakan akal, musuh dan penyakit akal. Kemarahan merupakan Seperempat Kebinasaan.

Jika amarah mendominasimu, maka engkau harus condong kepada sifat pemaaf dan kembali kepada sifat mulia. Jika hal itu menjadi kebiasaanmu, maka engkau sudah meneladani para nabi. Jika engkau menjadikan kemarahan sebagai kebiasaan, maka engkau serupa dengan binatang buas.

Dari Abu Darda’ ra berkata: ”Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang akan memasukkan aku ke dalam surga. Rasullah bersabda: ”Jangan marah, kamu akan masuk surga.”

Keempat, sesungguhnya pada setiap kejadian yang menimpa dirimu, engkau mesti membayangkan bahwa engkau adalah salah seorang rakyat, sementara selain dirimu adalah pemimpin. Maka hati-hatilah, jangan sampai menyakiti hati rakyat.

Penulis: Adi HFA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here