Perbanyak Zikir Untuk Perlembut Hati Yang Keras

Bengkulu, jurnalisbengkulu.com – Bagi umat Islam disarankan memperbanyak ibadah zikir untuk melembutkan hari yang keras.

Berikut salah satu lafal zikir:
سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Subhaanallaah, wal hamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar.

Artinya: Maha Suci Allah, Segala Puji bagi Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Maha Besar. HR. Muslim 3/1685.

Sementara itu, dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُكْثِرُوا الْكَلَامَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي

“Janganlah kalian banyak bicara tanpa berzikir kepada Allah, karena banyak bicara tanpa berzikir kepada Allah membuat hati menjadi keras. Dan orang-orang yang paling jauh dari Allah adalah orang-orang yang berhati keras.” (HR. At-Tirmidzi)

Hadis di atas mengingatkan umat Islam untuk seringkali berzikir agar memiliki hati yang lembut sehingga bisa menjaga lisan atau perkataannya, sehingga tidak menyinggung perasaan orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Bagaimana Nabi Muhammad SAW mengikat lidahnya dengan iman kepada Allah dan iman kepada hari akhir. Imam An-Nawawi mengatakan: “Ketahuilah, sepantasnya bagi setiap mukallaf (orang yang berakal dan baligh) menjaga lidahnya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang jelas maslahat padanya.”

“Kita punya agama dibangun pada asas diam sedikit bicara, kecuali perkataan yang ada maslahatnya. Ketika kita berbicara pada sahabat ada maslahatnya, namun jika kita diam dia juga akan mendapatkan maslahat. Maka lebih baik diam.”

Terkadang, orang berbicara sesuatu yang mubah (dibolehkan). Namun, ujung-ujungnya malah melakukan sesuatu yang haram dan makruh. Padahal Allah Ta’ala memberi ancaman kepada siapapun yang membicarakan keburukan saudaranya di belakang tanpa mubarrirat syar’iyyah.

Mubarrirat syar’iyyah adalah segala sesuatu yang membolehkan seseorang untuk membicarakan aib orang lain. Tapi perlu digarisbawahi, seseorang harus hati-hati dalam menggunakan lidahnya. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)

Karenanya umat Islam selalu berhati-hati menjaga lisan, sehingga selamat hidup di dunia dan di akhirat nanti. Aamiin.

Penulis: Adi HFA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *