Pesan Harian UJH : Ikhlas Tentang Hutang Piutang

Tak sengaja mendengar percakapan via telepon seseorang dengan temannya. Inti pembicaraan, mengabarkan teman mereka berdua meninggal asbabnya kecelakaan di Provinsi tetangga. Lalu, penelpon bertanya apakah hutangnya sudah lunas. Dijawab belum dibayar. Lalu, penelpon bertanya apakah tidak di ikhlaskan saja karena yang bersangkutan sudah meninggal.

Ternyata ikhlas sangat berkaitan dengan attitude? Mengapa? Berani minjam atau berani mengambil barang tapi setelah itu hilang tanpa khabar. Di datangi ke rumah dibilang tidak ada, ditelepon tidak diangkat. Kalau di angkat dijawab iya. Sabar ya. Di whats App centang biru tapi tidak dibalas. Perlakuan seperti ini yang membuat orang berat mengikhlaskan. Andai saja ada niat mengangsur walaupun cuma beberapa rupiah artinya ada niat buat membayar. Rasa kecewa itulah yang menyebabkan ketidak ikhlasan.

Beratnya dosa orang yang melalaikan hutang, sampai-sampai ia terbunuh dalam keadaan syahid sekalipun, maka dosa hutang tetap tidak terampuni. Demikian sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw.
فِي الدَّيْنِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ رَجُلًا قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، ثُمَّ عَاشَ، ثُمَّ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، ثُمَّ عَاشَ، ثُمَّ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، ثُمَّ عَاشَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَقْضِيَ دَيْنَهُ
“Dalam urusan hutang, demi Zat yang menggenggam jiwa Muhammad, seandainya seseorang terbunuh di jalan Allah, kemudian hidup lagi, kemudian terbunuh lagi di jalan Allah, kemudian hidup lagi, kemudian terbunuh lagi di jalan Allah, kemudian hidup lagi, tetapi ia memiliki tanggungan hutang, maka ia tidak akan masuk surga sampai melunasi hutangnya,” (HR. Ahmad).

Pagar Dewa, 08092023
Salam Ujh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *