Cinta Segitiga Antara Pria, Wanita, dan Rokok

Penulis : Ujang Martin AP 

DALAM banyak hubungan asmara, hadirnya orang ketiga sering dianggap sebagai ancaman terbesar. Namun dalam kehidupan nyata, “orang ketiga” itu tidak selalu manusia. Kadang, sebuah kebiasaan juga bisa menjadi pemicu jarak dalam hubungan. Salah satunya adalah rokok.

Bagi sebagian pria, rokok bukan sekadar benda yang dibakar lalu dihisap asapnya. Rokok sering menjadi teman saat bekerja, teman begadang, teman nongkrong, bahkan teman saat menghadapi tekanan hidup. Tidak sedikit pria yang merasa ada yang kurang ketika sehari saja tidak merokok.

Di sisi lain, banyak wanita memandang rokok dengan cara berbeda. Asap rokok dianggap mengganggu, baunya tidak nyaman, dan dampaknya terhadap kesehatan menjadi alasan utama mengapa kebiasaan itu sering dipermasalahkan dalam hubungan. Dari sinilah “cinta segitiga” itu mulai muncul.

Hubungan antara pria dan wanita yang sebenarnya baik-baik saja kadang berubah menjadi perdebatan hanya karena rokok. Ada wanita yang meminta pasangannya berhenti merokok demi kesehatan dan masa depan keluarga. Namun ada pula pria yang merasa kebiasaan tersebut adalah bagian dari dirinya yang sulit dilepaskan begitu saja.

Sebagai penulis, saya pribadi lebih cenderung memandang bahwa merokok boleh saja dilakukan, asalkan melihat kondisi dan situasi. Merokok di tempat umum tanpa memperhatikan orang sekitar tentu berbeda dengan merokok di ruang terbuka atau tempat yang memang diperbolehkan. Menurut saya, persoalannya bukan hanya pada rokok, tetapi pada kesadaran seseorang dalam menghargai orang lain.

Pandangan yang menentang rokok tentu memiliki dasar yang kuat. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut konsumsi tembakau menyebabkan jutaan kematian setiap tahun, termasuk akibat paparan asap rokok terhadap perokok pasif. WHO juga menegaskan bahwa tidak ada tingkat paparan asap rokok yang benar-benar aman. WHO

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC juga menyebut berhenti merokok dapat mengurangi risiko penyakit jantung, gangguan paru-paru, dan berbagai jenis kanker. CDC

Meski begitu, realitas di tengah masyarakat menunjukkan bahwa rokok masih menjadi bagian dari budaya sosial. Dalam banyak pergaulan, rokok sering dianggap sebagai sarana membangun komunikasi dan keakraban. Tidak sedikit pula hubungan pertemanan yang dimulai dari obrolan sederhana sambil menikmati sebatang rokok dan secangkir kopi.

Karena itu, menurut saya “cinta segitiga” antara pria, wanita, dan rokok tidak selalu harus berakhir dengan pertengkaran. Hubungan yang sehat seharusnya dibangun dengan komunikasi dan saling memahami. Perokok perlu sadar terhadap kenyamanan pasangannya, sementara pasangan juga perlu memahami bahwa mengubah kebiasaan seseorang bukan perkara instan.

Pada akhirnya, rokok memang bisa menjadi “orang ketiga” dalam sebuah hubungan. Namun yang menentukan bertahan atau tidaknya sebuah hubungan bukanlah rokok itu sendiri, melainkan bagaimana dua orang saling menghargai, menjaga perasaan, dan mencari titik tengah di antara perbedaan kebiasaan hidup mereka.

 

Sumber : 

1. World Health Organization (WHO) – Tobacco Fact Sheet

2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) – Benefits of Quitting Smoking