Duet Penyuluh Suami Istri di Selagan Raya, Trisno Putra dan Novi Hidayanti, Jadi Motor Petani Menuju Pertanian Modern

Duet Penyuluh Suami Istri di Selagan Raya, Trisno Putra dan Novi Hidayanti, Jadi Motor Petani Menuju Pertanian Modern (Foto: Ilustrasi)

 

Mukomuko, Jurnalisbengkulu.com – Keberhasilan transformasi pertanian di daerah tidak terlepas dari peran aktif para penyuluh di lapangan. Di Kecamatan Selagan Raya, Kabupaten Mukomuko, hadir sebuah fenomena menarik dan inspiratif: sepasang suami istri yang sama-sama berprofesi sebagai penyuluh pertanian, yakni Trisno Putra, S.P. dan Novi Hidayanti, S.P. Mereka bahu-membahu mendampingi para petani beradaptasi dengan metode pertanian modern.

Yang membanggakan, Novi Hidayanti tercatat sebagai Penyuluh Pertanian Madya Pertama di Kabupaten Mukomuko. Jenjang kepangkatan ini menunjukkan tingkat kepakaran yang tinggi dan masih terbilang langka di wilayah tersebut. Saat ini, ia ditempatkan langsung di wilayah binaan Selagan Raya, mendampingi suaminya yang juga seorang penyuluh pertanian.

Trisno Putra dikenal memiliki peran sebagai motivator ulung. Ia selalu menyemangati para petani agar tidak takut meninggalkan cara-cara lama yang kurang produktif. Sementara Novi Hidayanti, dengan kompetensi madya pertamanya, lebih fokus pada pendampingan teknis, manajerial usaha tani, serta penguatan kelembagaan kelompok tani.

Sinergi yang Saling Melengkapi

Dalam wawancaranya dengan jurnalisbengkulu.com di sela-sela pendampingan di lahan pertanian terpadu Selagan Raya, Trisno Putra mengaku bersyukur memiliki pendamping hidup sekaligus rekan kerja yang sangat kompeten.

“Pertanian modern bukan hal yang rumit atau mahal, tapi butuh keberanian dan pendampingan yang konsisten. Saya bertugas membangun mental dan motivasi petani. Alhamdulillah, istri saya, Ibu Novi Hidayanti, memiliki kemampuan teknis dan metodologi penyuluhan tingkat madya yang sangat membantu merancang program terstruktur bagi kelompok tani,” ujar Trisno.

Sementara itu, Novi Hidayanti menjelaskan bahwa kehadirannya bersama suami justru menjadi nilai tambah bagi petani. Mereka tidak lagi sungkan atau canggung untuk berkonsultasi.

“Petani di sini sudah seperti keluarga kami sendiri. Mereka bisa bertanya ke saya soal analisis biaya, perencanaan usaha tani, hingga pemanfaatan alat mesin pertanian (alsintan). Sementara ke Pak Trisno, mereka mendapat suntikan semangat dan motivasi. Kami saling mengisi dan melengkapi,” tutur Novi Hidayanti.

Dampak Nyata bagi Petani

Salah satu petani binaan, Arifin (52), mengaku merasakan langsung perubahan besar setelah didampingi oleh pasangan suami istri tersebut. Awalnya ia ragu menggunakan bibit unggul dan sistem irigasi sederhana. Kini, kelompok tani yang ia pimpin mulai berani bertransformasi.

“Pak Trisno selalu menyemangati kami hampir setiap hari. Beliau bilang, ‘kita pasti bisa’. Ibu Novi sangat sabar mengajarkan kami mencatat keuangan kelompok, menentukan jadwal tanam yang tepat, dan memilih pupuk berimbang. Beliau penyuluh madya pertama di Mukomuko, tapi tidak sombong. Malah beliau yang paling sering turun ke sawah,” kata Arifin penuh haru.

Apresiasi dari Dinas Pertanian

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mukomuko dalam keterangan resminya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Novi Hidayanti, S.P. yang telah mencapai jenjang penyuluh madya pertama dan memilih mengabdi di wilayah binaan Selagan Raya bersama suaminya.

“Pak Trisno Putra dan Ibu Novi Hidayanti adalah teladan nyata. Mereka membuktikan bahwa keluarga penyuluh bisa menjadi pusat perubahan pertanian dari tingkat paling bawah. Kami berharap kisah inspiratif ini bisa memotivasi penyuluh lainnya di Kabupaten Mukomuko,” ujar Kepala Dinas.

Optimisme Pertanian Modern di Selagan Raya

Dengan kolaborasi yang solid antara Trisno Putra sebagai motivator dan Novi Hidayanti sebagai ujung tombak teknis penyuluhan madya pertama, para petani di Selagan Raya kini semakin optimis. Mereka tidak hanya siap menghadapi era pertanian modern, tetapi juga bangga memiliki dua penyuluh sekaligus yang tinggal, bekerja, dan berjuang bersama mereka setiap hari. (Ahmad Husein)