Suasana perayaan Tabot di Bengkulu selalu tampak hidup dan penuh makna budaya. (Foto: https://Medcom.id)
Bengkulu, Jurnalisbengkulu.com – Deretan tabot yang dihiasi warna-warna cerah berdiri megah di tengah keramaian masyarakat yang memadati lokasi acara. Antusiasme warga menciptakan nuansa tradisi yang kuat dan sakral. Tidak hanya menjadi hiburan tahunan, Tabot juga mencerminkan warisan budaya yang terus dijaga lintas generasi. Di tengah perkembangan zaman modern, tradisi ini menjadi simbol identitas bagi masyarakat Bengkulu.
Menjelang datangnya bulan Muharam dalam kalender Hijriah, suasana Kota Bengkulu mulai berubah. Masyarakat mulai mempersiapkan penyambutan Festival Tabot yang rutin digelar setiap tahun pada 1 hingga 10 Muharam. Pada tahun 2026, peringatan 1 Muharam diperkirakan jatuh pada pertengahan Juni, meskipun tanggalnya dapat sedikit berubah mengikuti penanggalan Hijriah.
Di berbagai sudut kota, persiapan telong-telong dan tabot mulai dilakukan. Masyarakat pun sangat menantikan salah satu tradisi budaya terbesar di Bengkulu tersebut.
Saya masih ingat ketika datang ke Festival Tabot tahun 2025 lalu. Awalnya, saya datang hanya untuk menikmati keramaiannya. Suara pukulan dol menggema di berbagai penjuru acara. Panggung hiburan dipenuhi beragam kreasi seni, mulai dari tarian daerah, lagu daerah, hingga berbagai bentuk telong-telong hasil kreativitas masyarakat, seperti ikan, burung burak, kapal layar, hingga bentuk-bentuk modern lainnya.
Suasana malam yang dipenuhi cahaya lampu dan keramaian pengunjung yang sibuk berfoto, serta pedagang kuliner yang menjajakan dagangannya, membuat Festival Tabot terasa semakin hidup. Namun, di tengah kemeriahan itu, saya mulai bertanya: apakah Tabot hari ini masih dipahami sebagai ritual budaya, atau hanya sekadar festival tahunan yang meriah?
Dinas Pariwisata Kota Bengkulu menetapkan Festival Tabot sebagai salah satu agenda wisata unggulan Bengkulu yang konsisten masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata setiap tahunnya. Pemerintah daerah berupaya menjadikannya sebagai daya tarik wisata untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan pergerakan ekonomi, terutama bagi pelaku UMKM di Bengkulu.
Menurut saya, langkah tersebut bukan sesuatu yang salah. Budaya memang dapat menjadi kekuatan ekonomi sekaligus sarana memperkenalkan identitas daerah. Apalagi Bengkulu masih belum dikenal luas di berbagai wilayah Indonesia. Di era sekarang, budaya dan pariwisata memang sulit dipisahkan.
Manfaat ekonomi dari Festival Tabot juga cukup terasa bagi masyarakat. Pedagang kecil memperoleh peluang usaha, pelaku UMKM mendapat ruang promosi, dan sektor jasa ikut bergerak selama festival berlangsung. Bengkulu pun semakin dikenal melalui tradisi budayanya. Karena itu, saya tidak melihat perkembangan Tabot sebagai sesuatu yang keliru. Justru, hal itu bisa menjadi peluang besar bagi daerah.
Namun, ada hal yang perlu menjadi perhatian bersama. Saya melihat masyarakat lebih mengenal Tabot dari sisi keramaiannya dibanding memahami sejarah dan makna budayanya. Terutama di kalangan anak muda, Tabot lebih sering dikenal melalui festival, konser musik, atau konten media sosial dibanding pemahaman terhadap sejarah, ritual, maupun peran keluarga Tabot dalam menjaga tradisi tersebut.
Banyak orang datang untuk menikmati hiburan, berburu kuliner, atau membuat konten media sosial. Tentu, itu bukan hal yang salah. Akan tetapi, berapa banyak yang benar-benar mengetahui bahwa Tabot lahir dari tradisi penghormatan terhadap sebuah peristiwa penting dalam sejarah Islam?
Ketika budaya terlalu diukur melalui jumlah pengunjung dan kemeriahan acara, tradisi perlahan dapat berubah menjadi sekadar tontonan. Dalam kondisi seperti itu, makna budaya berisiko kalah oleh target keramaian dan kepentingan industri festival.
Padahal, Tabot bukan sekadar festival biasa. Tradisi ini telah ditetapkan sebagai bagian dari Warisan Budaya Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Artinya, Tabot memiliki nilai sejarah, identitas budaya, dan makna yang perlu dijaga keberlanjutannya. Menurut saya, pengakuan tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa Tabot lebih dari sekadar agenda wisata tahunan. Ia merupakan bagian penting dari jati diri budaya Bengkulu.
Persoalan pergeseran makna budaya sebenarnya tidak hanya terjadi di Bengkulu. UNESCO dalam berbagai kajiannya menekankan bahwa pariwisata budaya perlu diimbangi dengan perlindungan terhadap nilai autentik tradisi serta keterlibatan komunitas budaya. Ketika budaya terlalu diarahkan menjadi produk wisata, ada risiko bahwa nilai asli tradisi perlahan tergerus oleh kepentingan industri hiburan. Kekhawatiran inilah yang perlu diantisipasi dalam perkembangan Tabot setiap tahunnya.
Pada akhirnya, saya tidak menolak Tabot menjadi bagian dari pengembangan pariwisata daerah. Saya justru melihat tradisi ini memiliki potensi besar untuk membantu pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat citra Bengkulu. Akan tetapi, keseimbangan antara kepentingan wisata dan pelestarian budaya tetap harus dijaga.
Pariwisata boleh berkembang dan festival boleh semakin meriah. Namun, nilai sejarah, identitas budaya, dan makna yang membuat Tabot tetap hidup tidak boleh ikut memudar di balik gemerlap festival dan tuntutan industri pariwisata.
Penulis: Lesa Putri Yanti (Mahasiswa S1 Jurnalistik Universitas Bengkulu)











