Kehadiran Posyandu Rendah, Kader Desa Blau Siap Jemput Bola

Kehadiran Posyandu Rendah, Kader Desa Blau Siap Jemput Bola

 

Lebong, Jurnalisbengkulu.com – Rendahnya kehadiran balita di Posyandu menjadi persoalan utama yang mengemuka dalam Rembug Stunting Desa Blau, Kecamatan Lebong Atas, Rabu (8/7/2026). Kondisi ini dinilai dapat menghambat upaya deteksi dini gangguan pertumbuhan anak sekaligus mengurangi efektivitas program pencegahan stunting.

Rembug Stunting yang digelar di Balai Desa Blau tersebut merupakan tahapan pra-Musyawarah Desa untuk menghimpun berbagai usulan dan menyusun langkah penanganan stunting yang akan dimasukkan dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (RAPBDes) Tahun Anggaran 2027.

Perwakilan BKKBN mengungkapkan, masih banyak sasaran yang tidak rutin menghadiri Posyandu. Padahal, Posyandu merupakan layanan dasar yang berfungsi memantau berat badan, tinggi badan, status gizi, hingga perkembangan balita sehingga potensi stunting dapat diketahui sejak dini.

Sekretaris Desa Blau, Eki, yang mewakili Pjs Kepala Desa Nori Yohanes, mengatakan seluruh hasil pembahasan dalam rembug akan menjadi bahan penyusunan program pembangunan desa tahun depan.

“Seluruh usulan yang disampaikan hari ini akan dibahas dalam Musyawarah Desa dan menjadi dasar penyusunan program serta penganggaran pada RAPBDes Tahun Anggaran 2027. Pencegahan stunting membutuhkan kerja sama seluruh pihak, mulai dari pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader hingga masyarakat,” ujarnya.

Dalam forum tersebut juga terungkap masih adanya anggapan di tengah masyarakat bahwa anak akan mengalami demam setelah mengikuti kegiatan Posyandu. Persepsi tersebut membuat sebagian orang tua memilih tidak lagi membawa anak mereka ke Posyandu.

Menanggapi hal itu, Bidan Puskesmas Lebong Atas, Sumi, menegaskan bahwa Posyandu bukan hanya tempat menerima makanan tambahan, melainkan sarana penting untuk memantau tumbuh kembang anak secara berkala.

“Yang paling utama di Posyandu adalah pemantauan pertumbuhan balita, mulai dari berat badan, tinggi badan hingga perkembangan anak. Dengan pemantauan rutin, gangguan pertumbuhan dapat diketahui lebih awal sehingga penanganannya bisa segera dilakukan,” jelas Sumi.

Ia juga mengingatkan bahwa pemberian makanan tambahan (PMT) tidak hanya berbentuk makanan, tetapi harus dibarengi edukasi kepada keluarga. Menurutnya, PMT sebaiknya memanfaatkan bahan pangan lokal yang mengandung protein hewani agar kebutuhan gizi anak dapat terpenuhi secara optimal.

Sebagai solusi untuk meningkatkan cakupan layanan, kader Posyandu mengusulkan pengadaan peralatan yang dapat dibawa saat melakukan kunjungan langsung ke rumah-rumah warga. Melalui metode jemput bola tersebut, kader diharapkan tetap dapat memantau tumbuh kembang balita sekaligus memberikan edukasi kepada keluarga yang selama ini belum aktif datang ke Posyandu.

Edukasi juga akan menyasar remaja putri sebagai upaya mencegah anemia dan kekurangan gizi sebelum memasuki masa kehamilan. Selain itu, masyarakat diingatkan bahwa pernikahan usia dini merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko lahirnya anak stunting.

Pendamping Desa Kecamatan Lebong Atas, Doni, menegaskan bahwa Rembug Stunting bukan sekadar forum diskusi, melainkan tahapan penting dalam perencanaan pembangunan desa.

“Semua usulan yang disepakati hari ini harus menjadi perhatian pemerintah desa, termasuk kepala desa terpilih nantinya, untuk dibahas dalam Musyawarah Desa dan dituangkan dalam RAPBDes Tahun Anggaran 2027,” tegas Doni. (NA)