MIRIS! Siswa Kelas III SD Enggan Masuk Sekolah, Diduga Alami Tekanan Psikologis Saat Belajar

MIRIS! Siswa Kelas III SD Enggan Masuk Sekolah, Diduga Alami Tekanan Psikologis Saat Belajar

 

Seluma, Jurnalisbengkulu.com – Seorang siswa kelas III Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Semidang Alas, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, berinisial AN (10), dilaporkan sudah hampir dua bulan tidak mau lagi masuk sekolah.

Berdasarkan hasil konfirmasi awak media kepada orang tua AN di kediamannya, anak tersebut enggan kembali bersekolah diduga setelah mengalami tekanan psikologis saat mengikuti pembelajaran, khususnya di ruang inklusif.

“Anak saya tidak mau masuk sekolah lagi sejak bulan Februari lalu, setelah mengikuti pembelajaran di ruangan khusus (inklusif) karena katanya belum bisa baca tulis,” ungkap orang tua AN, Rabu (09/04/2026).

Dari penuturan sang ibu yang menggunakan dialek Serawai (bahasa lokal), secara fisik anaknya tidak mengalami kekerasan. Namun, ia menduga kuat adanya kekerasan psikologis yang dialami AN.

Ia juga menceritakan, tiga hari sebelum anaknya berhenti sekolah, dirinya sempat dipanggil ke pihak sekolah. Dalam pertemuan tersebut, oknum kepala sekolah disebut menyampaikan bahwa AN nakal, berbau tidak sedap, dan terkesan jorok.

Tak hanya itu, pernyataan tersebut juga diduga disampaikan langsung di hadapannya, yang membuatnya merasa terpukul.

“Waktu itu AN sempat libur sekitar dua minggu karena jari tangannya luka. Katanya suasana di sekolah jadi tenang, tapi kembali ribut setelah anak saya masuk lagi. Rasanya saya mau menangis, seolah-olah anak saya dianggap biang masalah,” tuturnya.

Saat ini, pihak keluarga mengaku kebingungan karena berbagai upaya membujuk AN untuk kembali bersekolah belum membuahkan hasil.

“Kami berharap anak kami bisa melanjutkan sekolah lagi. Kami sudah berusaha membujuk, tapi dia tetap tidak mau masuk,” tambahnya.

Sementara itu, saat dimintai klarifikasi untuk keberimbangan berita, Kepala Sekolah tempat AN bersekolah membantah keras tudingan tersebut.

Meski demikian, ia membenarkan bahwa AN sempat mendapatkan pembelajaran khusus karena belum menguasai baca tulis. Ia juga menyebut bahwa pembelajaran tersebut tidak hanya diberikan kepada AN, tetapi juga kepada beberapa siswa lainnya.

“Menurut saya, kalau disebut trauma itu sudah berlebihan, apalagi sampai ada kekerasan,” tegasnya.

Kepala sekolah juga menjelaskan bahwa sejak naik ke kelas III, wali kelas mengeluhkan perilaku AN yang kerap mengganggu siswa lain. Bahkan, sejumlah orang tua murid disebut pernah datang ke sekolah untuk melaporkan tindakan AN, seperti memukul dan menendang teman.

“Beruntung saat itu kami masih bisa meredam. Bahkan, anak tersebut sudah beberapa kali membuat siswa lain merasa tidak nyaman. Pernah juga terjadi adu argumen dengan orang tua AN,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengakui pernah menegur AN, namun menurutnya hal itu dilakukan semata-mata untuk kebaikan.

“Saya akui memang ada menegur. Waktu itu ada kotoran di matanya (belek), saya tanya kenapa, katanya tidak mandi karena tidak ada air saat musim panas. Saya sarankan mandi supaya segar. Kami tetap berusaha membimbing selama anak itu mau belajar,” pungkasnya. (Sukardianto)