BENGKULU, jurnalisbengkulu.com — Di tengah puing-puing rumah yang pernah dilalap api, sebuah harapan baru mulai tumbuh. Kamis, 30 Juli 2026, Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi hadir di Kelurahan Tanah Patah, Kota Bengkulu, membawa kabar baik bagi pasangan suami istri, Poniman dan Deti Mirwani.
Rumah yang sebelumnya hangus terbakar kini mulai dibangun kembali melalui program bedah rumah. Bagi keluarga tersebut, kehadiran Dedy bersama Kapolda Bengkulu Irjen Pol. Yudhi Sulistianto Wahid dan Ketua DPD REI Bengkulu Syamsu Ihwan bukan sekadar seremoni penyerahan bantuan. Hari itu menjadi titik awal untuk menata kembali kehidupan.
Namun, perhatian Dedy tidak berhenti pada pembangunan sebuah rumah. Di hadapan Deti, seorang guru ngaji yang baru saja melewati musibah, terlihat sisi kemanusiaan seorang pemimpin yang berusaha hadir di tengah kesulitan warganya.
Air Mata Seorang Ibu, Haru Seorang Wali Kota
Deti Mirwani tak kuasa menahan tangis ketika menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang diterimanya. Dengan suara bergetar, ia mendoakan agar seluruh pihak yang membantu keluarganya mendapat balasan kebaikan dari Allah SWT.
“Terima kasih, Pak, semuanya. Kami tidak bisa membalas apa-apa. Insyaallah kebaikan Bapak semua dibalas oleh Allah SWT. Sehat terus, rezeki lancar, sukses semuanya. Pembangunan di Kota lancar tanpa hambatan,” ujar Deti sambil terisak.
Ucapan itu menyentuh hati Dedy Wahyudi. Wali Kota Bengkulu tersebut kemudian memeluk Deti dan mencium tangannya berulang kali sebagai bentuk penghormatan sekaligus upaya menenangkan hati warganya.
Momen tersebut berlangsung sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam. Di balik jabatan dan tanggung jawab pemerintahan, Dedy memperlihatkan perhatian kepada seorang ibu yang sedang berusaha bangkit setelah kehilangan tempat tinggal.
Guru Ngaji yang Menggerakkan Kepedulian
Dedy mengungkapkan, sosok Deti sebagai guru ngaji menjadi salah satu alasan yang mendorongnya untuk segera mencari jalan keluar bagi keluarga tersebut.
“Saya melihat memang Ibu itu, beliau orang soleh, dia guru ngaji, kemudian beliau juga rubiah. Saya berpikir siapa figur dermawan, orang baik yang bisa kami rangkul. Salah satunya Bang Iwan (Ketua REI),” ungkap Dedy.
Pernyataan itu menggambarkan bagaimana Dedy berupaya menghubungkan kebutuhan warga dengan dukungan pihak lain. Dalam kasus keluarga Poniman, kepedulian tersebut diwujudkan melalui kerja sama Pemerintah Kota Bengkulu, Polda Bengkulu, dan DPD REI Bengkulu.
Bagi Dedy, membantu warga yang tertimpa musibah merupakan bagian dari tanggung jawab sosial pemerintah. Ia menilai, masyarakat tidak seharusnya menghadapi kesulitan seorang diri ketika masih ada pihak-pihak yang dapat bergotong royong memberikan bantuan.
Pemerintah Hadir di Tengah Musibah
Kebakaran yang menimpa rumah Poniman dan Deti terjadi pada Senin malam, 20 Juli 2026. Api yang disebut berasal dari bagian belakang rumah menghanguskan bangunan permanen serta empat unit sepeda motor.
Saat kejadian, Poniman yang tengah terbaring lemah akibat stroke masih berada di dalam rumah. Warga sekitar bergerak cepat mengevakuasinya sebelum petugas Pemadam Kebakaran tiba.
Musibah itu meninggalkan kehilangan besar bagi keluarga. Karena itu, pembangunan kembali rumah menjadi langkah penting untuk membantu mereka memperoleh tempat tinggal yang layak.
Dedy menegaskan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian bersama, bukan semata-mata kerja satu pihak.
“Hari ini juga REI membuktikan, Bang Iwan juga adalah anggota DPRD Kota Bengkulu, beliau menunjukkan kepeduliannya. Ini mohon maaf tidak ada maksud apa pun, tapi rasa kepedulian kita. Intinya kalau ada warga yang berduka, pemerintah hadir, ini bukti kita hadir,” tegas Dedy.
Kepedulian yang Dibangun Bersama
Dalam kesempatan yang sama, Kapolda Bengkulu Irjen Pol. Yudhi Sulistianto Wahid menyampaikan pentingnya kolaborasi dalam membantu masyarakat yang menghadapi musibah.
“Kami tidak bisa kerja sendiri, kami bekerja bersama-sama. Inilah untuk membangun Provinsi Bengkulu secara umum, dan khususnya di Kota Bengkulu,” ujar Yudhi.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membantu keluarga Poniman dan Deti kembali memiliki tempat tinggal. Kehadiran berbagai pihak memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap masyarakat dapat diwujudkan melalui kerja sama dan tindakan nyata.
Bagi Dedy Wahyudi, kisah keluarga di Tanah Patah menjadi pengingat bahwa pelayanan publik tidak selalu hadir dalam bentuk kebijakan dan pembangunan infrastruktur. Terkadang, kehadiran seorang pemimpin justru terasa paling berarti ketika datang kepada warga yang sedang kehilangan.
Di atas tanah tempat rumahnya mulai dibangun kembali, Deti menundukkan tubuh dalam sujud syukur. Sementara itu, Dedy berdiri sebagai bagian dari ikhtiar bersama untuk mengembalikan harapan sebuah keluarga.
Rumah itu mungkin belum selesai. Namun, bagi Poniman dan Deti, harapan telah lebih dulu menemukan tempat untuk tumbuh kembali.(M4/ADV)








