Sumpah Hashim Jadi Pemicu Gejolak, Internal Formas Ikut Memanas

Sumpah Hashim Jadi Pemicu Gejolak, Internal Formas Ikut Memanas

 

Jakarta, Jurnalisbengkulu.com — Pernyataan kontroversial terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu gelombang reaksi keras dari berbagai kalangan. Ucapan bernada menantang yang ia lontarkan kepada para pengkritik program tersebut dinilai justru memperkeruh situasi politik dan memantik gelombang perlawanan, terutama dari kalangan mahasiswa.

Pernyataan Hashim seolah menjadi pemicu amarah publik yang selama ini menaruh kekhawatiran terhadap berbagai persoalan sosial, termasuk kemiskinan yang belum terselesaikan. Dalam waktu singkat, aksi demonstrasi mahasiswa pecah di sejumlah kota besar seperti hingga .

Di hadapan publik, Hashim menegaskan bahwa program MBG merupakan bagian penting dari komitmen politik pemerintah yang tidak bisa ditawar. Ia bahkan menyatakan kesiapannya mendatangi kampus-kampus untuk menghadapi langsung pihak yang menolak program tersebut. Sikap ini dinilai banyak pihak sebagai bentuk arogansi kekuasaan.

Salah satu sorotan utama dalam polemik ini adalah besarnya anggaran program MBG yang mencapai Rp335 triliun. Angka fantastis tersebut menimbulkan kekhawatiran akan potensi penyalahgunaan anggaran dan kemungkinan munculnya praktik korupsi baru.

Namun tekanan terhadap Hashim tidak hanya datang dari luar. Retakan juga mulai terlihat di tubuh organisasi binaannya sendiri, yakni . Organisasi yang sebelumnya dibentuk untuk mendukung program pemerintah itu disebut mulai kehilangan soliditas.

Kritik keras muncul dari internal Formas. menilai Hashim telah menunjukkan sikap yang terlalu merasa paling benar. Menurutnya, organisasi yang seharusnya menjadi wadah perjuangan bersama kini justru berjalan tanpa arah yang jelas.

Nada serupa disampaikan yang mengingatkan agar Hashim segera melakukan evaluasi diri demi menjaga stabilitas politik nasional. Ia menilai pernyataan-pernyataan yang provokatif berpotensi membangkitkan kembali memori kelam reformasi 1998.

Sementara itu, mantan pengurus Formas, juga menyampaikan kritik tajam. Ia mengaku sejak awal meragukan kepemimpinan Hashim dan menilai sosok tersebut kurang memiliki empati terhadap masyarakat kecil karena tumbuh dalam lingkungan yang serba berkecukupan.

Saat ini, Formas disebut terpecah menjadi dua kubu. Kubu pertama tetap mendukung penuh program MBG tanpa syarat, sementara kubu lainnya mendesak pemerintah agar lebih peka terhadap kondisi masyarakat serta membuka ruang kritik.

Situasi ini menunjukkan bahwa polemik seputar MBG telah berkembang jauh melampaui persoalan program makan gratis semata. Program tersebut kini berubah menjadi ujian besar bagi stabilitas politik pemerintah.

Gelombang demonstrasi di jalanan dan konflik internal di tubuh Formas memperlihatkan satu hal yang semakin jelas: anggaran besar dan kebijakan populis tidak serta-merta menjamin stabilitas. Ketika komunikasi pemerintah justru bernada konfrontatif, potensi gejolak sosial dan politik menjadi semakin sulit dihindari. (NA)