HUJAN dengan intensitas tinggi kembali mengguyur beberapa kawasan di daerah Bengkulu. Beberapa hari belakangan intensitas curah hujan di wilayah Indonesia mengalami peningkatan. Dilansir dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan ini disebabkan oleh fenomena La Nina yang sedang terjadinya di Samudera Pasifik. BMKG merilis prakiraan hujan di wilayah Indonesia dalam rentang November hingga Januari mendatang untuk seluruh wilayah Indonesia.
Dalam prakiraan tersebut, ada beberapa wilayah di berbagai Provinsi termasuk Provinsi Bengkulu didominasi dengan potensi rawan banjir menengah dan rendah. Curah hujan yang tinggi bisa di kategorikan sebagai salah satu fenomena cuaca.
Meskipun pola cuaca dan iklim terjadi pergiliran yang teratur seperti bergantinya musim hujan dan musim kemarau, namun jika terjadi penyimpangan iklim, seringkali timbul aktivitas cuaca ekstrem yang memicu terjadinya bermacam-macam bencana alam akibat faktor meteorologis. Seperti saat ini, anomali iklim telah menyebabkan cuaca ekstrem berupa hujan di atas normal di sebagian besar wilayah Indonesia.
Dampak cuaca ekstrem telah memicu sejumlah bencana alam, seperti angin puting beliung, banjir, dan tanah longsor yang terjadi di berbagai daerah. Dampak terburuk yang mungkin timbul dari cuaca ekstrem adalah tingginya curah hujan yang terus mengguyur dan berlangsung berkepanjangan. Jika ini terjadi dikhawatirkan kita akan dihadapkan kepada sejumlah kerentanan, seperti kerentanan pangan dan ekosistem.
Untuk itu, seluruh lapisan masyarakat dihimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam dampak cuaca ekstrem yang mungkin terjadi di daerahnya. Secara umum cuaca ekstrem merupakan kondisi cuaca yang terjadi pada waktu tertentu yang melampaui kondisi normalnya.
Memanasnya suhu permukaan laut yang hampir merata di seluruh wilayah Indonesia ini hampir sama dengan kondisi iklim tahun 1998. Penyimpangan iklim ini dikatakan unik karena disamping sangat ekstrem, kejadiannya juga berlangsung secara merata hampir di seluruh wilayah Indonesia.
La Nina
Selain diakibatkan oleh pemanasan suhu permukaan laut, cuaca ekstrem di wilayah Indonesia akhir-akhir ini terjadi akibat dampak La Nina. La Nina merupakan peristiwa mendinginnya suhu muka laut di samudera pasifik equator bagian tengah diikuti oleh memanasnya suhu muka laut di perairan Indonesia. Dengan kata lain suhu muka laut di kawasan Indonesia di atas normal dan di samudera pasifik equator bagian tengah di bawah normal. Wilayah Indonesia yang terletak di sebelah barat Pasifik akan mengalami tekanan udara rendah akibat menghangatnya suhu muka laut.
La Nina menyebabkan penumpukan massa udara yang banyak mengandung uap air di atmosfir Indonesia, sehingga potensi terbentuknya awan hujan menjadi semakin tinggi. La Nina telah menimbulkan dampak penyimpangan iklim yang cukup signifikan. Seperti saat ini, meskipun sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam periode musim kemarau, tetapi cuaca ekstrem justru melanda berbagai daerah di tanah air. Mengacu pada hal tersebut dan prediksi peluang hujan tinggi lebih 70%, maka perlu kewaspadaan terhadap dampak potensi curah hujan tinggi dan potensi cuaca ekstrim. Dengan kondisi hujan yang cukup tinggi potensi terjadinya banjir, longsor, wabah penyakit dan munculnya badai akan semakin besar.
Bagaimana “membaca” intensitas curah hujan?
Curah hujan biasanya di amati dan di ukur intensitasnya dengan menggunakan alat penakar curah hujan baik yang bersifat manual. Sekilas, penggunaan alat penakar curah hujan tersebut hanya berfungsi untuk menghitung berapa curah hujan yang terjadi di lokasi tempat terpasangnya alat penakar curah hujan tersebut. Data yang tercatat dari hasil pengukuran setiap hari kemudian dikirimkan secara berkala ke BMKG untuk dijadikan dasar menyusun anlisis dan prakiraan curah hujan pada bulan berikutnya.
Namun dari hasil kemudian memberikan gambaran yang lebih luas tentang bagaimana membaca curah hujan di suatu daerah. Pada prinsipnya jumlah curah hujan yang tercatat dari alat penakar curah hujan di suatu tempat, dapat mewakili area dengan radius 5 – 10 km dari tempat terpasangnya alat tersebut. Artinya ketika curah hujan tercatat dari alat tersebut menunjukkan angka tertentu, itu berarti curah hujan di daerah sekitarnya juga memiliki intensitas yang sama dengan hasil pengukuran tersebut, lalu bagaimana cara “membaca” curah hujan dalam area di sekitar alat penakar curah hujan?.
Alat penakar curah hujan yang sudah diciptakan sedemikian rupa dengan diameter penampang yang sesuai dengan standar pengukuran BMKG, sejatinya dapat mewakili area di sekitarnya dengan perbantingan tetap, yaitu setiap millimeter kubik (mm) yang tercatat dalam alat tersebut menunjukkan bahwa dalam area satu meter persegi wilayah tersebut mendapat curah hujan sebesar 100 mm atau 1 liter air.
Bagaimana mengatasinya?
Sebagaimana uraian di atas, bahwa curah hujan tinggi tidak akan menimbulkan dampak buruk jika vegetasi hutan tetap terjaga, drainase dan saluran air terawatt dengan baik, dan system pengelolaan lahan pertanian yang memperhatikan kontur tanah. Keserakahan manusia, terkadang sering mengabaikan kelestarian alam, alasan ekonomi, pertambahan penduduk dan sulitnya lapangan kerja, sering menjadi pembenar untuk me”legalkan” perambahan hutan. Rendahnya kesadaran menjaga dan memelihara sungai, parit dan buruknya system drainase, juga menjadi pemicu terjadinya musibah. Sungai-sungai yang fungsi senebarnya adalah untuk menghantarkan air dari pegunungan ke laut, sering dilaha gunakan sebagai tempat pembuangan sampah dan limbah, bantaran sungai yang mestinya steril, kemudian berubah menjadi kawasan pemukiman kumuh.
Pemerintah memiliki sarana, dan warga punya tenaga, mengapa tidak dicoba untuk bersinergi membersihkan sungai-sungai, parit dan selokan yang da di sekitar kita?, jawabannya kembali kepada kesadaran kita, karena tanpa adanya kesadaran kita, peraturan dan regulasi tentang lingkungan sebaik apapun tidak akan mampu menghentikan bencana.
Pembenahan ekologi secara natural hendaknya diprioritaskan sembari melakukan rekayasa lingkungan. Ruang terbuka hijau (RTH) perkotaan, sebagaimana amanat UU No 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang wajib diupayakan minimal mencapai 30 persen dari luas wilayah. Kawasan sempadan sungai juga mesti dikembalikan fungsinya.
Rekayasa lingkungan di implementasikan dengan prinsip optimalisasi neraca air. Salah satu strategi efektif yang layak diupayakan adalah metode pemanenan air hujan (rainwater harvesting). Fungsi resapan daerah hulu mesti dipertahankan dengan pengendalian konversi lahan dan peningkatan vegetasi. Sedangkan pemanenan air hujan dapat menjadi solusi praktis kekurangan air sekaligus banjir.
Banyak model pemanenan yang dapat dikembangkan, antara lain penampungan air hujan (PAH), sumur resapan, lahan terbuka, lubang biopori, polder, dan lainnya. Pola dan prioritas pemanfaatan air pun dapat dilakukan seperti memanfaatkan air hujan untuk keperluan sekunder, misalnya menyiram tanaman.
Krisis air dan banjir adalah hantu masa depan manusia.Mitigasi yang mengindikasikan sebab gegar hidrologi dan merekomendasikan manajemen terpadu penting disadari dan dijadikan isu bersama. Kunci implementasi manajemen sumberdaya air terpadu adalah komitmen politik pemimpin, kepedulian swasta, dan partisipasi masyarakat.
Penulis : M. Zinedine Zidane, Mahasiswa Universitas Bengkulu











