Bengkulu, jurnalisbengkulu.com – Terkait sisa lebih pembiayaan anggaran atau Silva Provinsi Bengkulu tahun anggaran 2022 yang mencapai 201,34 Milyar, disisi lain banyak keluhan dan usulan masyarakat terkait infrastruktur yang sampai saat ini belum bisa diakomodir karena keterbatasan anggaran.
Gubernur Bengkulu melalui Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi Bengkulu, H. Nandar Munadi, S.Sos., M.Si, dalam Rapat Paripurna DPRD Provinsi Bengkulu dengan agenda Jawaban Gubernur Bengkulu atas pemandangan umum fraksi-fraksi DPRD Provinsi Bengkulu terhadap Raperda Provinsi Bengkulu tentang penanggung jawaban pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja daerah Provinsi Bengkulu tahun anggaran 2022.
Gubernur Bengkulu menjelaskan Silpa tersebut merupakan kontribusi dari pelampauan pendapatan asli daerah sebesar 28,65%, pelampauan pendapatan transfer sebesar 20,06%. dan efisiensi belanja hanya sebesaR 5,84% serta silpa dari sisa dak fisik dan non fisik hanya sebesar 9,42%.
“silpa tahun anggaran 2022 mengalami penurunan sebesar 26,51% dari tahun anggaran 2021. Silpa tersebut berada pada kas di kas daerah, kas di blud dan kas di dana bos. Realisasi belanja telah sesuai dengan perencanaan serta kegiatan khususnya yang berkaitan dengan 18 program prioritas gubernur yang tujuan utamanya adalah provinsi Bengkulu dan masyarakat Bengkulu. Kata Nandar, di ruang rapat Paripurna DPRD Provinsi Bengkulu, Senin, (17/7).
Menanggapi hal itu Ketua Fraksi Persatuan Nurani Indonesia, yang merupakan anggota Komisi II DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Putra S., S.H mengatakan Silva Provinsi Bengkulu tahun anggaran 2022 yang mencapai 201,34 Milyar. DPRD Provinsi Bengkulu setuju untuk dilanjutkan pembahasan di Badan Anggaran karena Jawaban Gubernur Bengkulu masih bersifat umum.
“Kita harus membahas hal ini secara detail di badan anggaran agar tidak menciptakan persepsi yang keliru tentang sisa lebih pembiayaan anggaran atau Silva ini. Karena Silva itu apakah dia berbentuk uang atau barang, ataukah bersifat sisa anggaran dana atau sisa dari perhitungan, misal kita perkirakan untuk beli itu 50 dan ternyata 40. Selain itu kita harus memaksimalkan menelusuri pendapatan daerah,” ujarnya.






